KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1_PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
Oleh: Muh. Minan, M.Pd
Patrap Triloka adalah sebuah konsep pendidikan yang digagas oleh Ki
Hajar Dewantara yang terkenal dengan semboyannya : Ing ngarso sung tuladha, ing
madya mangun karsa, tut wuri handayani di depan memberi teladan, ditengah
membangun motivasi/dorongan, dibelakang memberi dukungan. Berdasarkan hal
tersebut, sebagai seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran sudah sepatutnya
menerapkan konsep-konsep pengambilan keputusan yang tepat dan berpihak pada
murid.
Di era globalisasi dan perkembangan teknologi digital sekarang ini
peran guru sebagai pemimpin pembelajaran betul-betul di tuntut agar mampu
mengelola pembelajaran yang berkualitas dengan memanfaatkan seluruh sarana dan
prasarana yang tersedia. Maka di era gital sekarang ini seorang guru harus
mampu mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan mengacu pada
patrap triloka yaitu mampu menjadi teladan, memberi motivasi, dan memberi
dukungan kepada muridnya dalam upaya mengembangkan potensi yang dimiliki murid
sesuai dengan kodrat zamannya.
Guru sebagai makhluk sosial dan moral tentunya memiliki nilai dan
peran dalam menuntun segala kodrat murid untuk mencapai keselamatan dan
kebahagiaan belajar anak, baik untuk dirinya sendiri, lingkungan sekolah, dan
masyarakat. Sebab, telah tertanam nilai-nilai kebajikan, seperti cinta dan
kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung
jawab dan penghargaan akan hidup. Semua itu merupakan hal yang sangat
bertentangan dan mendasari ketika seorang guru mengambil sebuah keputusan pada
kasus murid di sekolah. Guru sebagai pemimpin pembelajaran, tentunya mengalami
dilema etika dan bujukan moral pada sebuah keputusan yang diambil saat menangani
kasus murid atau teman sejawat di komunitas kelas dan sekolah. Dengan
mempertimbangkan hal baik dan buruk kadang seorang guru melakukan keputusan
benar lawan benar dan benar lawan salah.
Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran sangatlah
penting dalam menentukan arah pendidikan agar tercipta pembelajaran yang
berharga. Dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada
anak maka nilai-nilai kebajikan yang berlaku didalam lingkungan sekolah perlu
menjadi acuan. Selain itu, prinsip-prinsip pengambilan keputusan perlu dipahami
agar dapat menanggulangi dilemma yang kerap muncul dalam situasi pengambilan
keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran, kita perlu memperhatikan 3 hal
dasar pengambilan keputusan. Ketiga dasar tersebut yakni nilai kebajikan,
kepentingan murid serta tanggung jawab.
Pengambilan keputusan dalam sebuah permasalahan yang dihadapi murid
ataupun teman sejawat di komunitas kelas atau sekolah memerlukan sebuah
penyelesaian dengan cara kolaborasi melalui metode coaching model TIRTA yang
merupakan akronim dari tujuan, identifikasi, rencana aksi, dan tanggungjawab.
Metode coaching model TIRTA dan pengambilan keputusan sesuai
dengan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 konsep pengambilan dan pengujian
keputusan dalam dilema etika, merupakan pilihan tepat dalam pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Seorang guru diharapkan menanamkan
nilai-nilai moral dan sosial yang dianut sesuai Triloka Ki Hajar Dewantara
dalam mengambil sebuah keputusan yang berpihak pada murid.
Nilai-nilai kebajikan di lingkungan sekolah perlu kita
pertimbangkan dalam menentukan suatu keputusan agar keputusan yang diambil
memenuhi kepentingan murid sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai pemimpin
pembelajaran. Dalam pengambilan keputusan tersebut terkadang kita ada dalam
kebimbangan akibat munculnya dilema etika dan bujukan moral.
Untuk menentukan keputusan secara bijak dalam menghadapi dilema
etika (benar lawan benar), kita perlu memahami 4 paradigma dilema etika dan 3
prinsip penyelesaian dilema etika, selain Selain itu, perlu juga menerapkan 9
langkah pengujian keputusan, sebagaiamana berikut ini:
Empat paradigma dalam pengambilan keputusan, yaitu:
- Individu lawan masyarakat (Individual vs Community)
- Rasa keadilan lawan rasa kasihan ( Justice vs Mercy)
- Kebenararan lawan kesetiaan (Truth vs Loyality)
- Jangkah pendek lawan jangka Panjang (Short Term vs Long Term).
Tiga
prinsip dilema etika yaitu :
- Berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking)
- Berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking)
- Berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking)
Sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan di antaranya:
- Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini
- Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
- Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
- Pengujian benar atau salah, terdiri atas : Uji Legal, Uji Regulasi/Standar Profesional, Uji Intuisi, Uji Halaman Depan Koran, dan Uji Panutan/Idola
- Pengujian Paradigma Benar lawan Benar
- Melakukan Prinsip Resolusi
- Investigasi Opsi Trilema
- Buat Keputusan
- Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.
Sebagai seorang guru tentunya kita pernah mengalami dan
diperhadapkan dengan berbagai permasalahan dari waktu ke waktu yang menuntut
dilakukannya pengambilan sebuah keputusan. Permasalahan dan situasi yang
dihadapi perlu untuk dicermati dan dianalisis dengan seksama agar kita tidak
terjebak pada pengambilan suatu keputusan yang salah karena kurang mampu dalam
menelaah situasi yang dihadapi secara jelas apakah termasuk dilema etika
ataukah bujukan moral.
Ketika dihadapkan dengan situasi dilema etika tentu adakalanya kita
mengalami kesulitan-kesulitan dalam menjalankan pengambilan keputusan tersebut.
Kesulitan muncul bisa disebabkan karena berbagai faktor misalnya, karena
masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama
bertahun-tahun, masih minimnya pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki
dalam menyelesaikan situasi permasalahan yang dihadapi, kekhawatiran apakah
keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat dan dapat mengakomodir
kepentingan orang banyak serta tidak mencederai pihak lainnya, dan adanya
perbedaan mindset dan sudut pandang yang menyebabkan sulitnya menemukan solusi
atau kesepakatan yang dapat diterima oleh setiap pihak yang terlibat.
Pengaruh pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang
sesuai dengan konsep ilmu di program guru penggerak sangat membantu saya dalam
mengambil keputusan yang bertentangan dengan kebenaran dan keadilan atau
mersakan dilema etika. Pengambilan keputusan dalam situasi dilemma etika saya
lakukan demi memerdekakan murid-murid untuk mencapai keselamatan dan
kebahagiaan belajar mereka.
Sebagai pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan yang tepat
akan membuat murid-murid senang dan nyaman pada gurunya. Hal itu, merupakan
sebuah bentuk motivasi dan dorongan bagi murid untuk mencapai kehidupan dan
masa depan yang gemilang. Dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran, kita harus benar- benar memperhatikan kebutuhan belajar murid.
Dengan keputusan yang kita ambil sudah mempertimbangkan kebutuhan murid maka
murid dapat menggali potensi yang ada dalam dirinya dan kita sebagai pemimpin
pembelajaran dapat memberikan pembelajaran yang sesuai denga kebutuhan
belajarnya dan menuntun murid dalam mengembangkan potensi yang dimiliki.
Sehingga dengan memperhatikan kesemua itu dalam mengambil keputusan maka
keputusan kita dapat berpengaruh terhadap keberhasilan dari murid di masa
depannya nanti.
Pembelajaran dan pengalaman yang saya peroleh dari mempelajari
modul 3.1 terkait Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran adalah
bahwa seorang pendidik merupakan pilar utama dalam dunia pendidikan yang
berinteraksi langsung dengan murid sehingga sering diperhadapkan oleh situasi
dan problematika yang mengharuskan dilakukannya pengambilan keputusan. Tentunya
harapan dari pengambilan keputusan yang dilakukan ini bukanlah suatu keputusan
gegabah dan terburu-buru, yang kemudian tidak mempertimbangkan konsekuensi dan
situasi tak terduga lainnya di masa depan serta mencederai pihak lainnya.
Pengambilan keputusan yang dilakukan merupakan rangkaian proses yang harus
dilakukan dengan penuh cermat dan kehati-hatian dalam menentukan sikap
dan langkah tindakan dari berbagai kemungkinan situasi yang ada.
Adapun dengan modul-modul sebelumnya, pembelajaran pada modul ini merupakan suatu yang saling berkaitan. Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dalam kebahagiaan yang setinggi-tinginya, baik untuk dirinya sendiri, sekolah, maupun masyarakat. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Modul ini merupakan penyempurna dari modul-modul sebelumnya dalam penerapan merdeka belajar disekolah tempat kita mengajar.

Semangat
BalasHapuskeren sekali,, sangat bermanfaat dan mendapatkan pengetahuan yang baru
BalasHapus